Aplikasi Meta Paling Banyak Mengumpulkan Data Pengguna, Google Menyusul
Riset Surfshark terhadap 171 aplikasi dari lima raksasa teknologi menemukan aplikasi milik Meta menjadi yang paling banyak mengumpulkan jenis data pengguna, sementara Google berada di posisi kedua.
Di tengah semakin bergantungnya masyarakat pada aplikasi untuk berkomunikasi, bekerja, berbelanja, hingga mencari informasi, persoalan privasi data kembali menjadi perhatian.
Riset terbaru perusahaan keamanan siber Surfshark menunjukkan adanya perbedaan cukup besar dalam jumlah jenis data yang dikumpulkan aplikasi dari perusahaan teknologi besar. Dalam penelitian terhadap 171 aplikasi di Apple App Store, Meta menempati posisi pertama sebagai perusahaan dengan aplikasi paling banyak mengumpulkan data, disusul Google, Amazon, Microsoft, dan Apple.
Istilah “paling rakus data” dalam penelitian ini mengacu pada jumlah jenis data yang dilaporkan dikumpulkan aplikasi, bukan seberapa sering data tersebut diambil atau berapa banyak volume data yang dikumpulkan.
Meta Kumpulkan Rata-rata 25 Jenis Data
Surfshark menganalisis 12 aplikasi Meta dan menemukan rata-rata aplikasi perusahaan tersebut mengumpulkan 25 dari 35 kategori data yang menjadi acuan penelitian. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Apple yang rata-rata mengumpulkan tujuh jenis data dan Microsoft delapan jenis data. Amazon berada di angka 12, sedangkan Google rata-rata mengumpulkan 17 jenis data.
Dengan demikian, aplikasi Meta secara rata-rata mengumpulkan lebih dari tiga kali jumlah jenis data yang dikumpulkan aplikasi Apple maupun Microsoft. Namun, angka tersebut tidak otomatis berarti seluruh data digunakan untuk tujuan yang sama atau bahwa setiap pengguna menyerahkan seluruh kategori data tersebut. Penelitian Surfshark didasarkan pada informasi privasi yang dicantumkan pengembang di Apple App Store.
Meta AI Jadi Aplikasi Paling Banyak Mengumpulkan Data
Jika dilihat berdasarkan aplikasi, Meta AI berada di posisi teratas dalam penelitian tersebut.Aplikasi Meta AI dilaporkan mengumpulkan 33 dari 35 jenis data yang menjadi kategori penelitian.
Setelah Meta AI, sejumlah aplikasi Meta lainnya juga berada di jajaran teratas, termasuk Meta Horizon, Meta Business Suite, Meta Ads Manager, Messenger, Forum, dan Facebook. Masing-masing dilaporkan mengumpulkan 32 jenis data.
Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan pengumpulan data bukan hanya terjadi pada aplikasi media sosial. Aplikasi AI, bisnis, periklanan, hingga produktivitas juga dapat membutuhkan atau mengumpulkan berbagai informasi mengenai penggunanya.
Google Berada di Posisi Kedua
Google menempati posisi kedua dengan rata-rata 17 jenis data yang dikumpulkan dari aplikasi-aplikasinya. Jumlah aplikasi Google yang dianalisis juga paling banyak dalam penelitian, yakni 44 aplikasi. Sebagai perbandingan, Apple memiliki 41 aplikasi, Microsoft 40, Amazon 34, dan Meta 12 aplikasi dalam sampel penelitian.
Menariknya, meskipun rata-rata pengumpulan data Google berada di bawah Meta, Google mendominasi daftar aplikasi yang paling banyak mengumpulkan data. Sebanyak 29 aplikasi Google masuk dalam 40 besar aplikasi dengan jumlah pengumpulan data tertinggi. Artinya, besarnya ekosistem aplikasi Google juga menjadi faktor penting ketika melihat seberapa luas data dikumpulkan di berbagai layanan.
Amazon, Microsoft, dan Apple
Amazon berada di posisi ketiga dengan rata-rata 12 jenis data per aplikasi. Aplikasi Amazon Alexa menjadi aplikasi non-Meta yang paling banyak mengumpulkan data dalam penelitian tersebut, yakni 28 jenis data.
Sementara itu, Microsoft berada di posisi keempat dengan rata-rata delapan jenis data. Apple menjadi perusahaan dengan rata-rata pengumpulan data paling rendah dalam penelitian, yakni tujuh jenis data per aplikasi. Apple juga cenderung berada di posisi paling rendah dalam sebagian besar kategori yang dibandingkan Surfshark.
Data Apa Saja yang Dikumpulkan?
Jenis data yang dikumpulkan aplikasi sangat beragam. Pada aplikasi Meta, Surfshark menemukan sejumlah kategori seperti ID perangkat, interaksi pengguna dengan produk, data performa, data kerusakan aplikasi, lokasi presisi, hingga riwayat penelusuran.
Sementara pada aplikasi Google, kategori yang umum dikumpulkan antara lain ID perangkat, data diagnostik dan performa, riwayat pencarian, riwayat pembelian, foto atau video, alamat fisik, alamat email, nama, lokasi perkiraan, serta data kerusakan aplikasi.
Beberapa aplikasi Google seperti Chrome dan Gemini juga dilaporkan mengumpulkan riwayat penelusuran. Besarnya variasi tersebut menunjukkan bahwa “data pengguna” tidak hanya berarti nama dan nomor telepon. Aktivitas pengguna di dalam aplikasi, lokasi, perangkat yang digunakan, riwayat pencarian, hingga interaksi dengan fitur tertentu juga dapat menjadi bagian dari data yang dikumpulkan.
Mengapa Aplikasi Membutuhkan Banyak Data?
Pengumpulan data tidak selalu berarti aplikasi melakukan sesuatu yang berbahaya. Sebagian data memang dibutuhkan agar aplikasi dapat menjalankan fungsi tertentu. Informasi mengenai perangkat dan performa, misalnya, dapat membantu pengembang mengetahui penyebab aplikasi mengalami gangguan. Data lokasi juga dapat dibutuhkan oleh aplikasi navigasi atau layanan yang memang menyediakan fitur berbasis lokasi.
Masalahnya muncul ketika pengguna tidak memahami jenis informasi apa yang dikumpulkan dan bagaimana informasi tersebut digunakan. Surfshark menilai perusahaan teknologi dapat menggabungkan berbagai informasi dari banyak aplikasi sehingga terbentuk profil digital pengguna yang sangat detail.
Satu Data Bisa Terhubung dengan Data Lain
Risiko privasi tidak selalu terletak pada satu jenis data secara terpisah. Nama seseorang mungkin terlihat biasa. Riwayat pencarian juga mungkin tidak terlalu sensitif. Lokasi pun dapat terlihat sebagai data teknis. Namun, ketika informasi tersebut digabungkan dengan riwayat pembelian, kebiasaan menggunakan aplikasi, lokasi, serta aktivitas digital lainnya, gambaran mengenai seseorang dapat menjadi jauh lebih lengkap.
Inilah yang membuat jejak digital perlu diperhatikan. Pengguna mungkin tidak menyadari bahwa aktivitas yang dilakukan di beberapa aplikasi berbeda dapat menghasilkan kumpulan informasi yang sangat luas.
Apa yang Bisa Dilakukan Pengguna?
Temuan tersebut bukan berarti pengguna harus berhenti menggunakan aplikasi populer.
Namun, pengguna perlu lebih sadar terhadap izin dan informasi yang diberikan kepada aplikasi.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
1. Periksa izin aplikasi
Jangan langsung memberikan seluruh izin yang diminta. Periksa apakah aplikasi benar-benar membutuhkan akses ke lokasi, kontak, kamera, mikrofon, atau informasi lainnya.
2. Baca informasi privasi
Memang tidak semua orang akan membaca kebijakan privasi yang panjang. Namun, informasi ringkas mengenai data yang dikumpulkan di App Store dapat menjadi titik awal untuk mengetahui bagaimana sebuah aplikasi menangani data.
3. Batasi akses lokasi
Jika sebuah aplikasi tidak membutuhkan lokasi secara terus-menerus, pertimbangkan untuk mengubah izin menjadi akses hanya ketika aplikasi digunakan atau menonaktifkannya.
4. Hapus aplikasi yang tidak digunakan
Aplikasi yang sudah tidak pernah digunakan sebaiknya dihapus. Selain menghemat ruang penyimpanan, langkah tersebut juga dapat mengurangi jumlah layanan yang memiliki akses terhadap perangkat.
5. Jangan sembarangan memasukkan data sensitif
Pengguna sebaiknya berpikir dua kali sebelum memasukkan informasi pribadi, dokumen identitas, informasi keuangan, atau data sensitif lainnya ke dalam aplikasi yang tidak benar-benar membutuhkannya.
Data Pribadi Semakin Menjadi Aset Berharga
Di era digital, data pengguna telah menjadi salah satu aset yang sangat berharga. Perusahaan dapat menggunakan data untuk memahami perilaku pengguna, mengembangkan produk, meningkatkan layanan, melakukan analisis, hingga menjalankan sistem periklanan dan rekomendasi. Karena itu, persoalan privasi tidak seharusnya hanya menjadi tanggung jawab perusahaan teknologi. Pengguna juga memiliki peran penting dengan memahami apa yang dibagikan, kepada siapa data diberikan, dan izin apa yang sebenarnya diperlukan sebuah aplikasi.
Riset Surfshark memang tidak menyatakan bahwa Meta, Google, atau perusahaan lainnya melakukan pelanggaran hanya karena mengumpulkan banyak kategori data. Penelitian tersebut lebih tepat dipandang sebagai gambaran mengenai seberapa luas jenis data yang dilaporkan dikumpulkan oleh aplikasi-aplikasi tersebut berdasarkan informasi privasi di App Store.
Pada akhirnya, semakin banyak aplikasi yang digunakan seseorang, semakin penting pula kesadaran untuk mengelola jejak digital. Kemudahan menggunakan aplikasi memang memberikan banyak manfaat, tetapi pengguna tetap perlu memastikan bahwa kenyamanan tersebut tidak membuat kendali atas data pribadi sepenuhnya berpindah ke tangan platform.





